Cerita Seks Melayani Tante Marisa Yang Hypersex 3

Cerita Seks Melayani Tante Marisa Yang Hypersex 3

Cerita Seks Melayani Tante Marisa Yang Hypersex 3 Cerita Nakal sebelumnya yang telah diketahui atau kita baca bersama tentu saja yang berjudul Cerita Seks Melayani Tante Marisa Yang Hypersex 2 dan kali ini situs Cerita69 akan melanjutkan yang mantap dengan cerita sebelumnya yang pastinya bisa membangkitkan birahi seseorang yang berjudul Cerita Seks Melayani Tante Marisa Yang Hypersex 3  ,.. ya uda yuk kita langsung aja mulai aja cerita nya.. hehehe penasaran? yuk let’s go..

Cerita Seks Melayani Tante Marisa Yang Hypersex 3

Beberapa saat kami melakukan itu, detik–demi detik , menit demi menit, rasanya tak ingin aku menghentikan itu, ada yang berdegup kencang di dalam dadaku, ada rasa takut, takut jika ada yang menyaksikan kegiatan kami berdua, takut bila sekonyong-konyong muncul orang memergoki kami berdua, tante Mala atau Moza, yang mungkin terbangun. Aku seakan menikmati apa yang diberikan oleh tante Marissa dengan hati yang was-was, menikmati segala perlakuannya padaku sambil berwaspada mengamati situasi yang mungkin aku takutkan terjadi.

Tapi nampaknya tante Marissa seakan tak perduli dengan rasa khawatirku, beliau sepertinya menikmati sekali dengan apa yang kami lakukan, goyangan bagian bawah pinggulnya semakin menjadi-jadi, aku yang terpaksa harus meluruskan batang dedeku agar dapat mengimbangi posisi lubang kemaluannya, sepertinya rada tertarik dan membuatku merasa nyeri, wajahku sedikit meringis, dan sepertinya itu terlihat oleh Tante Marissa.

Tiba-tiba saja, ia mengangkat badannya, dan tanpa mencabut dedeku yang masih berada didalam vaginanya, dibantu oleh tangannya, mendorong tubuhku dengan tubuhnya, berguling, kini posisi kami berubah, tante Marissa kini berada diatasku.

Tante Marissa memelukku dengan erat, menindihku, seakan ingin menghentikanku bernapas, payudara putih dan montok itu kini berada ditengah-tengah dada kami, kenyal terhimpit, kurasakan putingnya yang telah tegang dan mengeras itu seperti menempel pada putingku.

“Gimana fan ? enak kan ?, sekarang kamu akan Tante kasih pelajaran kedua !” terlontar kata-kata itu dari mulutnya,
“eh yang keberapa ya ? gak tau deh, kamu yang hitung, hihihi.. !” cekikikan tante Marissa, namun tak lama, karena setelah itu beliau malah menciumi bagian pipiku, dan setelah itu berlanjut ketelingaku.

Dijilatnya pelan telingaku, memainkan lidahnya ditengkukku, kemudian beliau menciumi leherku dan tanpa kusadari, kini ia malah memainkan pantatnya, menaik-turunkan pantatnya dengan mulai perlahan serasa diayun kemudian dilakukannya cepat dan makin cepat.

Tak ada kata-kata yang kuucapkan untuk menjawabnya, seolah mulutku tertutup rapat, tak tahu apa yang harus kulontarkan, yang ada hanya ada rasa nikmat yang amat sangat, tatkala ia kembali menaikturunkan pantatnya, layaknya ulat yang sedang berjalan merambat batang ranting, dengan meliukkan tubuhnya menjalari tubuhku.

Dan sepertinya ia ingin memberikan aku sensasi dan pengalaman yang mungkin aku belum pernah alami, tiba-tiba saja ia menarik baju kaos yang masih menempel pada tubuhku, ditariknya ke atas hingga ke leher, dengan isyarat tangan ia memintaku untuk melepasnya. Aku menuruti kemauannya, kubiarkan ia melepas kaos tersebut, kuangkat tanganku untuk mempermudah ia melepaskannya.

Dan sesaat kemudian, aku juga telah polos tanpa ada kain yang menutupi tubuhku !.

Dan selanjutnya serangan berupa kecupan-kecupan dan jilatan-jilatan melanda tubuhku, mulai dari pipi, leher, hingga kedadaku, sepertinya ia hendak menciumi terus seluruh tubuhku hingga kebawah, namun nampaknya ia tak rela untuk mencabut vaginanya yang menancap pada penisku, hingga ciumannya hanya sebatas putingku saja. aku yang sedari tadi hanya pasif saja, menerima saja apa yang dilakukannya kini mulai bergerak aktif, tanganku yang semula tergeletak disamping badanku, kini mulai terangkat, menyentuh bagian bokongnya, seakan ingin membantunya naik turun, dan tanpa kusadari kini tanganku mulai meremas-remas bokongnya !.

Entah berapa lama kami melakukan itu, namun yang jelas, aku sangat menikmati apa yang dilakukannya terhadapku, payudara yang kenyal yang terhimpit diantara badanku dan badannya, tiba-tiba saja menimbulkan rasa yang membuat aku untuk melakukan sesuatu terhadanya, aku melepaskan tanganku yang berada pada bokongnya, kemudian menyelipkan diantar tubuh kami, kucengkeram benda putih, besar dan kenyal itu, kulakukan remasan-remasan padanya, dan nampaknya tante Marissa, menikmati apa yang kulakukan padanya.

“Fan kalo sperm kamu mau keluar, keluarin aja ya ? jangan takut-takut, tante udah disteril kok “ kudengar bisikan tante Marissa pada kupingku, aku tak menjawabnya mungkin karena saking nikmatnya dengan penetrasi yang dilakukan oleh tante Marissa pada diriku, aku hanya dapat menjawabnya

BACA JUGA : Cerita Seks Dewasa Pemerkosaan Manager Seksi Yang Galak

“He eh tan” disertai anggukan cepat, namun suaraku sepertinya hilang tertelan oleh deru napasku yang memburu.

Dan selanjutnya, ketika hasrat birahiku meluap-luap, ketika moment yang sepertinya sangat berharga ini tak ingin aku lepaskan, tiba-tiba saja Tante Marissa bangkit dari posisi rebahnya dibadanku, mengangkat kakinya dan menggesernya kedepan, sehingga kini posisinya seperti duduk setengah berjongkok dengan penisku yang menancap layaknya paku.

Dengan bertumpu pada kakinya, tante Marissa sepertinya semakin liar, beliau kini malah seperti bebas menggerak-gerakkan seluruh tubuhnya, menggoyang pantatnya kekiri kekanan, layaknya mengulek-ulek penisku agar hancur didalamnya. Kemudian berganti memaju-mundurkan pantatnya seolah akan menggerus apa yang berada dibawahnya.

Aku hanya mampu melenguh, menarik dan menghembuskan napasku dengan cepat sulit sekali mengikuti irama yang dilakukan oleh Tante marissa, kadang bila goyangannya kuikuti dan sejalan dengannya, tiba-tiba saja berubah, beliau mengubah pola goyangannya.

Yang jelas apa yang kurasakan saat ini memang aku baru mengalaminya, napasku seperti terengah-engah dibuatnya, Aku tidak dapat mengikuti irama permainannya, namun sensasi yang kurasakan begitu nikmatnya, goyangan-goyangan yang dilakukannya, begitu terasa pada seluruh kemaluanku, mulai dari kepala, batang hingga pongkol penisku begitu terasa, kadang aku ikut menggoyang pantatku, naik turun, seakan-akan membiarkan seluruh penisku amblas ke dalam vaginanya.

Saat tubuhnya bergoyang-goyang, aku menikmati pandanganku pada tubuh diatasku, payudara putih dan besar didepanku, bergonjang-ganjing bagaikan ada gempa yang menerpanya, terayun-ayun bagaikan hendak jatuh menimpaku, dan kemudian Tante Marissa menaruh tangannya pada kedua buah dada nan montok itu, meremas- remasnya, seakan memberi isyarat kepadaku agar melakukannya.

Dan kuikuti kemauannya…..

Entah berapa lama kami melakukannya, waktu tak terasa, goyangan-goyangan liar yang dilakukannya, seakan melupakan kami akan waktu serta udara malam yang dingin menjadi tak terasa. Kurasakan batang penisku kini juga semakin tegang dan liar, seakan apa yang diberikan oleh Tante Marissa masih kurang, kadang kuangkat pantatku tinggi-tinggi, agar penetrasi penisku semakin dalam menerobos vaginanya.

Dan kulihat tante Marissa juga menikmati pelajaran yang diberikannya, entah sepertinya beliau begitu menghayatinya, kulihat mata beliau sepertinya terhanyut dengan apa yang kami lakukan, deru napas memburu diiringi desahan-desahan terdengar jelas walau halus.

Beberapa saat berlalu, ketika kurasakan jepitan pahanya pada tubuhku sepertinya semakin menghimpitku, goyangan yang dilakukan oleh tante Marissa terhenti sejenak, hingga kulihat seperti ada lenguhan dan hempasan napas diiringi tubuh yang bergetar, entahlah apa yang dirasakan oleh tante Marissa, namun kurasakan pada batang penisku semakin basah seakan ada benda cair menyiramnya. Mungkin ini yang dinamakan orgasme, karena kuperhatikan pada wajah Tante Marissa, dibalik peluh yang membasahinya, tampak seperti memperlihatkan tanda kepuasan.

Dan tiba-tiba saja penisku terlepas dari genggaman vaginanya, kulihat tante Marissa bangkit dari duduknya, berdiri bagaikan hendak mengakhiri permainan ini. Tentu saja jelas hal ini membuatku kaget, bagaimana tidak, aku yang sejak tadi dibuat nanggung olehnya, masa harus mengalami lagi seperti tadi, “Sialan” mengumpat aku dalam hati, jika saja tante Marissa benar-benar melakukannya lagi, mengerjaiku hanya sampai setengah jalan !.

Namun, nampaknya tante Marissa tak berhenti hanya sampai disini, beliau yang kini berdiri mengangkangiku, tiba-tiba saja menarik tanganku, menyusuhku untuk berdiri, bangkit dari posisi rebahku. aku sepertinya pasrah dengannya, menuruti ajakannya, ikut bangkit, mengikutinya !

Tante Marissa berbisik ditelingaku,

“Fan, sekarang pelajaran berikutnya” dan kemudian ia seolah membimbingku, berbalik berjalan seraya menaruh tanganku diperutnya, dan seakan menyuruhku untuk memeluknya dari belakang, mengikutinya.

Entah apa maunya, dedeku yang masih tegak mengacung, kini menempel pada pantatnya yang munjung, songgeng, seakan hendak menyelinap diantara belahan pantatnya itu. Tanganku yang berada dipinggang, dengan telapak tangan menyentuh begian perutnya, membuat tekanan pada tubuh tante Marissa semakin erat menempel pada tubuhku. Hmm, kupikir tante Marissa akan mengajakku untuk pindah ke kamarnya, melanjutkan prosesi hubungan intim kami ditempat yang lebih aman.

Namun perkiraanku ternyata meleset….

Ketika aku sedang menikmati saat-saat pergerakan kami tersebut, sensasi yang kurasa membuat gairah laki-lakiku kembali naik, tiba-tiba saja beliau memundurkan badannya, sehingga akupun memundurkan badanku dengan melangkahkan kakiku beberapa langkah kebelakang, dan beliau seketika berbalik, membalikkan badannya kearahku, dan sekonyong-konyong beliau mendorongku kebelakang, seakan hendak menolak aku, terhenyak aku, tak menyangka akan gerakannya, tanganku seakan reflek menahan tubuhku yang terjengkang, membuatku jatuh terduduk diatas sofa !.

Aku menatapnya dengan pikiran yang banyak menduga-duga, apa gerangan yang akan dilakukannya lagi terhadapku, kulihat beliau tersenyum, entah apa yang ada dipikirannya. Dan tanpa kuduga sama sekali, tiba-tiba tante Marissa menyusulku, menghampiriku, membalikkan badannya tepat didepanku. Kemudian seakan-akan mengambil ancang-ancang dimana letak penisku, dengan setengah membungkuk, beliau menempatkan kakinya berada ditengah-tengah kakiku, membuatku melebarkan kaki dan dengan perlahan-lahan beliau menurunkan pantatnya diantara belahan pahaku.

Mungkin karena aku dalam posisi tak siap, saat pantatnya mengarah kediriku, saat lubang vaginanya tertarik mencari penisku agar berada pada posisi yang pas, membuatnya tergelincir dan dan terpelintir, ada rasa sakit melandaku, dan otomatis aku mendorong tubuhnya, namun tante Marissa sepertinya sudah tahu dan mengerti, sehingga beliau melakukannya namun kali ini dengan pelan dan perlahan, menurunkan pantatnya mengarah kepada penisku.

Secara reflek aku membantunya dengan mengarahkan penisku. memasukkan penisku kedalam vaginanya dengan memgang pantatnya yang bulat, perlahan-lahan mulai dari kepalanya, batangnya, hingga semuanya seperti tertelan masuk kedalamnya.

Entah apa yang kurasakan, yang jelas saat ini aku merasakan hal yang benar-benar baru kualami, sukar kulukiskan dengan kata-kata, betapa penisku saat ini seperti tergenggam erat dengan benda hangat, dengan permukaan yang licin dan basah namun seakan-akan meremas-remas seluruh permukaan penisku dengan begitu lembut.

Aku hanya mampu melenguh pelan, seandainya dirumah ini tak ada lagi orang selain kami berdua, mungkin aku sudah bersuara keras, namun kusadari bahwa yang kami lakukan merupakan suatu hal yang hanya kami saja yang boleh tahu. Dari tempatku duduk memang saat ini aku dapat mengawasi kearah kamar dimana mereka berdua tidur, ya kamar tante Mala dan kamar Moza memang tepat berada di arah depanku, membuat merasa lebih aman, karena bila sewaktu-waktu pintu kamar tidur didepan itu terbuka, maka aku sapat dengan cepat mengantisipasinya.

Kupegang kiri kanan pantat yang indah dan bulat didepanku dengan kedua tanganku, seakan menyuruhnya untuk naik turun, menjaganya agar tetap berada dalam jangkauan penisku, seakan aku tak ingin ia lepas lagi. Dalam posisiku yang terduduk, sebetulnya tak ada yang dapat aku lakukan lebih dari sekedar memegang pantatnya saja, kendali sepenuhnya berada ditangan Tante Marissa. Beliau lebih banyak bergerak seakan tak mengenal lelah, menaik-turunkan pantatnya, dengan berpegang pada tangannya yang memegang kedua pahaku. Memang ada sedikit rasa sakit pada pahaku saat kedua tangannya menekan pahaku guna membuat pantatnya terangkat naik.

Dan lebih lebih lagi pada saat beliau menurunkan pantatnya perlahan-lahan, pahaku seakan ditekan dengan keras, namun itu tak kurasakan sama sekali, karena rasa nikmat yang amat sangat menyelimutiku, membuat seluruh tubuhku terasa bergetar sampai keubun-ubunku.

Beberapa saat berlalu, entah berapa lama kurasakan kenikmatan ini, sebetulnya aku sendiri merasa heran, mengapa dedeku yang biasanya hanya mampu bertahan beberapa menit saja, kini kurasakan cukup lama bertahan, apakah mungkin karena rasa takut ketahuan membuat pikiranku bercabang, sehingga ejakulasiku menjadi lebih lama dari biasanya, ataukah karena aku baru saja mengeluarkannya beberapa saat yang lalu ketika aku mencumbui moza sehingga dedeku perlu waktu untuk mengisi ulangnya. Entahlah, namun yang jelas pikiranku saat ini hanya terfokus bagaimana aku menikmati apa yang diberikan oleh Tante Marissa.

Tante Marissa sepertinya juga sangat menikmati dengan apa yang dilakukannya, kulihat beliau saat mendudukan pantatnya diatas kedua pahaku seperti ada yang membuatnya tergetar, kepalanya kadang digerakkannya kekanan dan kekiri, sementara pantatnya melakukan gerakan yang membuat dedeku seakan berputar, keatas, kekiri, kebawah dan kekanan, begitu terus.. dan terus… dan beliau seperti tadi, melakukan gerakan yang tak dapat kuduga, memang hal ini membuat dedeku terasa sakit namun seolah ditekuk tapi segera hilang ditutupi oleh rasa nikmat yang amat sangat.

Detik demi detik berlalu, menit demi menit kami lewati tanpa ada rasa nikmat terlewati, dan sejauh ini tante Marissa sepertinya memegang kendali penuh atas diriku, sesekali aku memeluknya dari belakang, menciumi bagian punggung hingga leher, sembari tanganku memegang payudaranya, meremas-remasnya, memainkan putingnya dan sesaat kemudian kembali meremas-remasnya dengan keras dan itu sepertinya cukup untuk menambah sensasi kenikmatan dari apa yang kami lakukan.

Napas kami seperti sudah tak beraturan, kudengar desahan-desahan, dan racauan yang tak kumengerti yang keluar dari mulutnya, hingga dipenghujung malam ini kudengar seperti suara lenguhan panjang yang tertahan. Tubuh tante Marissa seperti bergetar dengan hebat, kepalanya tertarik kebelakang, genggaman vaginanya serasa mencengkeram dengan keras,dan beberapa saat kemudian cairan hangat sepertinya membanjiri batang penisku.

Tante Marissa menyandarkan tubuhnya pada tubuhku tanpa melepaskan penisku yang masih tetap berada dalam vaginanya, peluh membanjiri tubuhnya, dimalam yang dingin ini, tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, hanya hembusan menyentak seakan melepaskan rasa lelah yang amat sangat. Matanya melirik kearahku, tersenyum sekilas, mungkin dalam hatinya ia merasa puas dan juga merasa heran, puas karena ia telah mencapai orgasmenya yang kedua, dan heran karena aku belum juga mencapai puncak ejakulasiku.

“Fan… sekarang pelajaran selanjutnya” setengah berbisik ia memandangku sambil mengelus pipi kiriku dengan tangannya, aku hanya terdiam memandangnya, tersenyum seakan menanti jurus berikut yang akan diturunkan oleh guru kepada muridnya.

Kemudian tiba-tiba saja tante Marissa bangun, melepaskan penisku yang masih tegang didalam vaginanya, tanpa melangkah beliau berguling ke kanan, dari atas badanku ke sofa, kemudian beliau mengangkat kakinya dan kemudian menunggingkan badannya, dengan posisi pantat berada didekatku dan kepalanya diujung sana.

Melirik kepadaku seolah menyuruhku untuk menuntaskan apa yang belum aku dapat, menyuruhku agar aku memegang kendali terhadapnya, menyorongkan pantatnya, mempersilahkan lobang vaginanya untuk aku manfaatkan, dengan meletakkan tangannya pada vaginanya seakan menunjukkan bahwa disitulah tempat dimana lubang kenikmatan yang harus aku manfaatkan sebaik-baiknya.

Tak kusia-siakan kesempatan yang mungkin langka ini, mungkin inilah yang selama ini kuimpikan, dari pembicaraan dengan teman-temanku yang sudah menikah, katanya posisi inilah yang paling nikmat, tapi entahlah, sepertinya semua posisi menurutku adalah sama, karena selama ini aku belum pernah melakukannya dengan siapapun, melakukan hubungan intim dengan wanita yang benar-benar rela dan sepenuhnya sadar dengan apa yang dilakukannya. Ya, selama ini aku melakukan dengan wanita hanya satu arah saja, sedangkan apa yang kualami saat ini adalah benar-benar nyata, benar-benar wanita dewasa yang cantik jelita, dengan tubuh yang sempurna, yang dengan rela menyerahkan tubuhnya kepadaku untuk aku nikmati.

Aku segera berputar badan, mengangkat kakiku ke sofa, menekuknya, kemudian aku berdiri dengan bertumpu pada kedua lututku, dan sekarang penisku mengarah pada pantatnya, tepat didepannya kini terpampang vagina tante Marissa !.

Perlahan aku mendorongkan penisku ke depan, tepat kepada lubang vaginanya yang mengangkang, memasukkannya perlahan, dan aku tersenyum, karena kini akulah yang memegang kendali terhadapnya. Perlahan aku masukkan bagian kepala penisku, mendorongnya pelan-pelan, kulihat kearah kepala Tante Marissa yang menengok kearahku, sepertinya beliau meminta aku agar dengan cepat aku memasukkanya kedalam vaginanya. Namun, sepertinya aku ingin membalasnya, ketika penisku sudah masuk sebagian, kulihat beliau sepertinya terhenyak, kemudian memejamkan matanya, memalingkan wajahnya dariku, lurus kedepan, seolah akan menikmati terobosan penisku.

Namun aku menahannya sebentar, dan kemudian tanpa ia duga, aku menariknya kembali dengan hanya meninggalkan kepala penisku didalamnya. Tante Marissa, menengok kembali kearahku seakan memprotes tindakanku, aku tersenyum sambil cekikikan pelan, “Kena” kataku perlahan, kemudian tanpa ia duga, aku mendorongnya keras-keras hingga membuatnya terpekik. “Fandi…!” katanya seolah menjerit dengan ditahan, nampaknya ia terkaget dengan yang aku perbuat. Namun aku seolah tak mendengar suara pekikannya, karena kemudian aku menariknya lagi dan mendorongnya lagi dengan cepat dan keras, membuatnya sedikit terpental.

Dan kemudian aku mendorong dan menariknya dengan cepat, seakan mengocok-ngocok penisku, yah, mungkin inilah yang ditanyakan Tante Marissa tadi, apa yang kubayangkan seandainya aku melakukan ritual coli, sesungguhnya inilah yang aku sering imaginasikan, dengan perempuan cantik yang nungging dengan pasrah menerima apa yang aku lakukan padanya.

Terus dan terus aku lakukan, menarik, mendorong penisku kedalam vaginanya, membuatnya terayun-ayun, kadang aku mendorong tubuhku agar dapat memeluknya, menjangkau payudara putih, indah dan kenyal yang bergoyang menggemaskanku, tanpa melepaskan penisku yang terus melakukan aktifitasnya disana. Kadang Tante Marissa juga menggoyang-goyangkan pantatnya kekiri dan kekanan, kadang seolah meliuk-liuk melakukan putaran, menambah sensasi kenikmatan yang kami lakukan.

Dari mulutnya juga keluar desahan-desahan halus dan deru napas yang kembali tidak teratur.

Entah timbul dari mana, dipikiranku terlintas ingin membalas lagi keisengannya tadi, saat sedang gencar-gencarnya, aku melakukan penetrasi padanya, saat sepertinya ia sedang asyik masyuk dengan apa yang aku lakukan, tiba-tiba aku hentikan gerakanku, diam, seakan aku sedang memasang telinga, melihat kearah pintu kamar Tante Mala atau Moza, seolah-olah menyatakan bahwa mereka keluar dari kamar.

Dan itu juga membuat tante Marissa terhenti, mengangkat kepalanya memandang kearah mana aku memandang, namun begitu ia menyadari bahwa tak ada sesuatupun yang terjadi, dan mengetahui bahwa ia sedang aku permainkan, keluar kata-kata “Fandi …kamu ah !” menyebut namaku seakan memprotes apa yang aku lakukan, dan aku terkekeh melihatnya, seraya melanjutkan apa yang tadi kulakukan, mendorong kembali penisku, menariknya, seakan mengocoknya dari perlahan, kemudian mempercepatnya dan semakin cepat.

Pantat tante Marissa yang bulat menantang, seperti yang selama ini selalu kubayangkan bila aku melakukan self service, kinibenar-benar nyata berada didepanku, sepertinya aku ingin menikmati semua menu yang tersedia didepanku, mulai dari pantatnya yang kuremas-remas, menepuk-nepuknya seperti adegan dalam film porno yang pernah aku saksikan, walaupun aku tak tahu apa yang dirasakan oleh Tante Marissa, namun sepertinya memang ada reaksi terhadapnya, kemudian memegang pinggulnya yang laksana gitar, menariknya kedalam ke arahku, seakan-akan ingin membuat ujung pantatnya menyentuh badanku, agar penetrasi penisku menjangkau semakin dalam vaginanya, terus menerus membuat bunyi seperti orang bertepuk tangan ketika pantatnya bersentuhan dengan bagian sebelah atas pahaku.

Beberapa saat berlalu, sepertinya tak puas-puasnya aku menyetubuhinya, begitu juga dengan Tante Marissa, sepertinya beliau juga menikmati dengan apa yang kulakukan. Kurasakan beliau juga sangat bersemangat melayaniku, melakukan perlawanan yang membuat pertarungan semakin seru dan panas, hingga saat kurasakan penisku semakin menegang dan mengeras, ketika tekanan dan genggaman vaginanya seolah-olah mencengkeram dengan beringas, ketika kurasakan diujung penisku sepertinya akan menembakkan peluru dengan hulu ledak cairan kental dan panas, kulihat dibawahku sepertinya tante Marissa juga merasakan hal yang sama, goyanganya semakin dipercepat, memaju mundurkan pantatnya, napasnya kelihatan seolah terengah-engah, kulihat ia sepertinya merapatkan pahanya, agar penisku semakin terjepit.

Sepertinya dari mulutnya kudengar seruan pelan namun jelas

“Hayo Fan !” seakan menyuruhku untuk berbarengan menuntaskan apa yang telah kami mulai.

Kudorong pantat putih, bulat, montok itu dengan kencang, kusentakkan dengan keras, kutengadahkan kepalaku kebelakang. Aku seakan ingin berteriak dengan kencang, ketika lendir nan wangi khas itu kumuntahkan, namun menyadari bahwa mungkin teriakanku akan mengundang orang, aku hanya mampu meneriakkan kata “aaaahhhrrrgggghhhhhh” dengan tertahan. Dan mungkin pada saat bersamaan sepertinya aku juga mendengar desahan dan lenguhan panjang mulut tante Marissa, sementara kepalanya menunduk, terkulai lemas, namun tubuhnya masih dalam posisi semula, tangannya masih menahan berat tubuhnya.

Kerebahkan badanku kedepan, memeluknya dari belakang, penisku berdenyut pelan, memuntahkan sisa-sisa cairan kedalam lubang vaginanya. Tak kusangka keringat mengucur deras dari badanku, bercampur ketika tubuh kami bersatu. Tante Marissa menjatuhkan badannya ke sofa dengan tubuhku masih menempel pada punggungnya. Letih dan lemas menyelimutiku, kutarik napasku dengan pelan dan kuhembuskan dengan cepat, seolah akan mengatur aliran napasku. Begitu juga dengan Tante Marissa, sepertinya melakukan hal yang sama, melepaskan lelah dengan mengatur jalur pernapasnya.

Pipi kami saling bersentuhan, saat helaan napas sepertinya sudah tak terdengar, kudengar suaranya jelas namun pelan,

“Fandi, kamu Nakal !”, aku tersenyum mendengarnya, namun aku seakan enggan untuk menjawabnya, tak ada yang keluar dari mulutku.

Saat ini aku hanya tak ingin melepaskan tindihan badanku pada badannya, seolah ingin terus menikmati apa yang kurasakan saat ini. Namun tiba-tiba sesuatu menyadarkanku, aku takut sepertinya ada yang memperhatikan kami berdua, ketika sepertinya ada yang menyuruhku untuk bangun, kucium dengan cepat,

“Makasih ya Tan buat pelajarannya”, sambil aku mengangkat badanku, menjejakkan kakiku pada lantai, membungkuk untuk meraih pakaianku yang berserakan di lantai.

Tante Marissa sepertinya juga melakukan hal yang sama, duduk, kemudian mengumpulkan pakaiannya yang berserakan.

Bergegas aku mengenakan pakaianku, namun saat mengenakannya, kulihat tante Marissa, setelah memastikan pakaiannya terkumpul semua, menaruhnya pada lengannya, mengepitnya ke tubuhnya, memastikannya tak terjatuh, tersenyum kepadaku sesaat, meninggalkanku dengan tubuh polosnya, berjalan menuju kamarnya.

Dan sepertinya aku juga tak ingin berlama-lama, udara dingin mulai kurasakan, kuraih remote yang tergeletak dilantai, mematikan televisi dan bergegas meninggalkan ruangan tengah itu, menuju kamar dimana seharusnya aku tidur.

Kutarik handle pintu dengan perlahan, memastikannya agar tak berbunyi ketika aku membukanya, tak ingin aku melihat Moza terbangun dan melihatku memasuki kamar, dan menanyakanku mengapa aku meninggalkannya, bertanya padaku apa yang telah aku lakukan.

Pelan, kuhampiri ranjang tempat dimana gadis cantik itu tertidur, meraih sisi tempat tidur, memastikan tubuh wanita itu tertidur pulas, memastikan aku tak mengganggunya dengan kedatanganku, kurebahkan badanku disisinya, tanpa bersuara, berusaha memejamkan mata.

Kembali bayangan-bayangan kejadian barusan yang kualami, seperti berkelebat melewati mataku, ada rasa puas, ada rasa berderu didadaku, juga sepertinya ada rasa bersalah menimpaku, sepertinya aku telah mengkhianati wanita disampingku, entahlah, aku merasakan bahwa hatiku seperti terpaku pada wanita disebelahku ini, seperti ada perasaan lain, seakan hatiku telah terpaut dengannya, apakah aku menyayanginya lebih dari seorang kakak dengan adiknya ?, walaupun dalam agama aku boleh menikahinya, karena aku tidak sedarah dengannya, bukan saudara kandungnya, bukan pula saudara sepersusuanku, melainkan hanya kakak bawaan, karena ibuku dan ibunya adalah sepupu jauh, kakek buyut kami saja yang sama, namun jelas kini aku telah terlarang menikahinya, karena aku telah bersetubuh dengan ibunya juga dengan tantenya.

Pikiran-pikiran itu terus membayangiku, kupeluk tubuhnya tanpa rasa napsu lagi, namun kini seakan rasa sayang menggantikannya, seolah aku tak ingin melepaskannya, membuatku sedikit tenang, hingga membuatku tertidur pulas.

• SELESAI• 

Baca Juga cerita seks lainnya hanya di Cerita69 UPDATE SETIAP HARI. Baca juga Cerita Nakal lainnya hanya di Cerita69Kumpulan Cerita Dewasa & 2019.

About Sandra Lim 81 Articles
Sandra Lim merupakan admin dari situs Cerita69 yang Mengangkat Cerita-cerita dewasa yang tentu saja bisa membangkitkan nafsu birahi seseorang ini menjadi topik utama saya sebagai Admin dari Cerita69.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*